Pelatihan Perguruan Tinggi

Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi: Strategi Membangun Tata Kelola Kampus yang Tangguh dan Berkelanjutan

Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi Strategi Membangun Tata Kelola Kampus yang Tangguh dan Berkelanjutan

Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi merupakan program pengembangan kompetensi yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan pimpinan, pengelola perguruan tinggi, unit kerja, pengelola keuangan, auditor internal, perencana, serta tenaga kependidikan dalam mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, mengendalikan, dan memantau berbagai risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan institusi.

Perguruan tinggi menghadapi lingkungan yang semakin kompleks. Perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, tuntutan mutu akademik, kondisi keuangan, pengelolaan sumber daya manusia, keamanan data, penelitian, kerja sama, hingga perubahan kebutuhan mahasiswa dapat memunculkan berbagai risiko.

Karena itu, manajemen risiko tidak seharusnya hanya dilakukan ketika terjadi masalah. Risiko perlu dikelola sejak tahap perencanaan sehingga perguruan tinggi dapat mengambil keputusan secara lebih terukur dan antisipatif.

Melalui Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi, peserta diharapkan mampu membangun kerangka pengelolaan risiko yang terintegrasi dengan tata kelola, perencanaan strategis, penganggaran, pelaksanaan program, monitoring, dan evaluasi.


Daftar Isi

Apa Itu Manajemen Risiko Perguruan Tinggi?

Manajemen risiko perguruan tinggi adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi dan mengelola ketidakpastian yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan institusi.

Secara umum, prosesnya dapat digambarkan sebagai:

Tujuan → Identifikasi Risiko → Analisis → Evaluasi → Mitigasi → Monitoring → Perbaikan

Dengan pendekatan ini, perguruan tinggi tidak hanya bereaksi setelah risiko terjadi, tetapi berusaha mengantisipasi dan mengurangi dampaknya.

Manajemen risiko memiliki hubungan erat dengan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Tata Kelola Perguruan Tinggi dan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Manajemen Perguruan Tinggi.


Mengapa Manajemen Risiko Penting bagi Perguruan Tinggi?

1. Mengantisipasi Permasalahan

Identifikasi risiko membantu institusi mengetahui potensi masalah lebih awal.

2. Mendukung Pencapaian Sasaran

Risiko yang dikelola dengan baik dapat membantu menjaga pencapaian target institusi.

3. Meningkatkan Kualitas Pengambilan Keputusan

Pimpinan dapat mempertimbangkan risiko sebelum menentukan kebijakan.

4. Meningkatkan Efektivitas Pengendalian

Institusi dapat menentukan pengendalian berdasarkan risiko yang dihadapi.

5. Melindungi Sumber Daya

Risiko terhadap keuangan, aset, SDM, data, dan fasilitas dapat dikelola secara lebih sistematis.

6. Meningkatkan Ketahanan Institusi

Perguruan tinggi menjadi lebih siap menghadapi perubahan dan gangguan.


Tujuan Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi

Pelatihan dapat dirancang untuk:

  1. memahami konsep dasar manajemen risiko;
  2. memahami prinsip dan proses pengelolaan risiko;
  3. mengidentifikasi risiko institusi;
  4. mengelompokkan risiko;
  5. menganalisis kemungkinan dan dampak;
  6. menentukan prioritas risiko;
  7. menyusun strategi mitigasi;
  8. menetapkan risk owner;
  9. melakukan monitoring;
  10. menyusun laporan risiko;
  11. mengintegrasikan risiko dengan perencanaan dan anggaran.

Prinsip Manajemen Risiko Perguruan Tinggi

Terintegrasi

Manajemen risiko perlu menjadi bagian dari proses organisasi.

Terstruktur

Proses pengelolaan risiko harus memiliki tahapan yang jelas.

Berbasis Informasi

Keputusan risiko perlu didukung data dan informasi yang relevan.

Dinamis

Risiko dapat berubah seiring perubahan lingkungan.

Berorientasi Perbaikan

Hasil pengelolaan risiko digunakan untuk meningkatkan sistem.

Melibatkan Semua Pihak

Manajemen risiko bukan hanya tanggung jawab satu unit, tetapi membutuhkan keterlibatan organisasi.


Jenis Risiko Perguruan Tinggi

Risiko dapat dikelompokkan sesuai karakteristik institusi.

Risiko Strategis

Risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan strategis.

Risiko Operasional

Risiko yang muncul dalam kegiatan sehari-hari.

Risiko Keuangan

Risiko yang berkaitan dengan pendapatan, anggaran, belanja, kas, aset, dan pengelolaan keuangan.

Risiko Akademik

Risiko yang berkaitan dengan proses pendidikan dan mutu akademik.

Risiko Penelitian

Risiko yang berkaitan dengan kegiatan penelitian, hibah, publikasi, dan pengelolaan hasil penelitian.

Risiko SDM

Risiko yang berkaitan dengan dosen, tenaga kependidikan, kompetensi, dan keberlangsungan SDM.

Risiko Teknologi Informasi

Risiko terkait sistem, jaringan, keamanan informasi, dan ketersediaan layanan digital.

Risiko Kepatuhan

Risiko akibat ketidaksesuaian terhadap kebijakan atau ketentuan yang berlaku.

Risiko Reputasi

Risiko yang dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat dan pemangku kepentingan.


Risiko Strategis Perguruan Tinggi

Risiko strategis dapat muncul apabila program institusi tidak mampu mendukung tujuan jangka panjang.

Contohnya:

  • strategi tidak sesuai perubahan lingkungan;
  • target institusi tidak realistis;
  • daya saing menurun;
  • program prioritas tidak tercapai;
  • perubahan kebutuhan mahasiswa;
  • perubahan kebijakan pendidikan tinggi.

Pengelolaan risiko strategis perlu dikaitkan dengan perencanaan institusi melalui 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Manajemen Perguruan Tinggi.


Risiko Keuangan Perguruan Tinggi

Risiko keuangan dapat berasal dari:

  • ketidaktepatan perencanaan anggaran;
  • penurunan pendapatan;
  • peningkatan biaya;
  • lemahnya pengendalian;
  • kesalahan pencatatan;
  • keterlambatan penerimaan;
  • pengelolaan aset yang tidak optimal.

Pengelolaan risiko keuangan dapat diperkuat melalui 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Keuangan Perguruan Tinggi dan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Keuangan Perguruan Tinggi Berbasis Kinerja.


Risiko Akademik

Perguruan tinggi perlu mengelola risiko yang dapat memengaruhi kualitas pembelajaran.

Beberapa contoh:

  • ketidaksesuaian kurikulum;
  • keterbatasan dosen;
  • rendahnya kualitas pembelajaran;
  • masalah layanan akademik;
  • keterlambatan proses akademik;
  • rendahnya capaian pembelajaran.

Pengelolaan risiko akademik dapat menjadi bagian dari sistem penjaminan mutu.


Risiko Penelitian

Kegiatan penelitian memiliki berbagai risiko, seperti:

  • keterlambatan penelitian;
  • target tidak tercapai;
  • pengelolaan hibah kurang optimal;
  • dokumentasi tidak lengkap;
  • masalah etika penelitian;
  • rendahnya output penelitian;
  • keterlambatan publikasi.

Risiko penelitian dapat dikaitkan dengan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Riset Perguruan Tinggi dan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Pengelolaan Hibah Penelitian.


Risiko Sumber Daya Manusia

SDM merupakan salah satu aset utama perguruan tinggi.

Risiko SDM dapat berupa:

  • kekurangan tenaga;
  • ketidaksesuaian kompetensi;
  • turnover;
  • beban kerja tidak seimbang;
  • kesenjangan kompetensi;
  • kurangnya kaderisasi.

Pengelolaan risiko SDM dapat diintegrasikan dengan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Pengelolaan SDM Perguruan Tinggi dan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Manajemen Dosen.


Risiko Teknologi Informasi

Transformasi digital meningkatkan efisiensi, tetapi juga menghadirkan risiko baru.

Risiko dapat mencakup:

  • gangguan sistem;
  • kehilangan data;
  • akses tidak sah;
  • kesalahan sistem;
  • ketergantungan teknologi;
  • kegagalan jaringan;
  • rendahnya kesiapan pengguna.

Pengelolaan risiko digital dapat diperkuat melalui 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Transformasi Digital Perguruan Tinggi dan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Sistem Informasi Perguruan Tinggi.


Risiko Reputasi Perguruan Tinggi

Reputasi dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek, termasuk:

  • kualitas akademik;
  • pelayanan;
  • integritas;
  • komunikasi;
  • kinerja lulusan;
  • penelitian;
  • pemberitaan;
  • hubungan dengan masyarakat.

Karena itu, manajemen risiko perlu mempertimbangkan dampak keputusan terhadap kepercayaan pemangku kepentingan.


Tahapan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi

1. Menentukan Konteks

Institusi memahami tujuan, lingkungan, dan kondisi organisasi.

2. Identifikasi Risiko

Menentukan risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan.

3. Analisis Risiko

Menilai kemungkinan dan dampak risiko.

4. Evaluasi Risiko

Menentukan prioritas berdasarkan tingkat risiko.

5. Mitigasi Risiko

Menentukan tindakan untuk mengurangi kemungkinan atau dampak.

6. Monitoring

Memantau perubahan tingkat risiko dan efektivitas pengendalian.

7. Komunikasi

Menyampaikan informasi risiko kepada pihak yang berkepentingan.

8. Pelaporan

Mendokumentasikan risiko dan tindakan pengendaliannya.


Identifikasi Risiko

Identifikasi dapat dilakukan melalui:

  • wawancara;
  • diskusi;
  • brainstorming;
  • analisis dokumen;
  • evaluasi proses;
  • audit;
  • analisis data;
  • pengalaman historis.

Tujuannya adalah memperoleh daftar risiko yang relevan dengan tujuan institusi.


Risk Register Perguruan Tinggi

Risk register merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mendokumentasikan risiko.

Contoh format:

No Risiko Penyebab Dampak Kemungkinan Dampak Level Mitigasi Risk Owner
1 Target pendapatan tidak tercapai Perubahan sumber pendapatan Program terganggu Sedang Tinggi Tinggi Diversifikasi pendapatan Unit terkait
2 Gangguan sistem informasi Gangguan teknis Layanan terganggu Sedang Tinggi Tinggi Backup dan pemulihan Unit TI
3 Keterlambatan penelitian Kendala pelaksanaan Output tertunda Sedang Sedang Sedang Monitoring berkala Unit penelitian

Format dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.


Analisis Kemungkinan dan Dampak

Risiko umumnya dianalisis menggunakan dua aspek utama:

Kemungkinan × Dampak

Semakin besar kemungkinan dan dampaknya, semakin tinggi perhatian yang perlu diberikan.

Namun, metode penilaian harus disesuaikan dengan kebijakan dan metodologi manajemen risiko yang digunakan oleh institusi.


Matriks Risiko

Matriks risiko dapat digunakan untuk membantu memvisualisasikan prioritas.

Secara umum:

  • risiko rendah → dapat dipantau;
  • risiko sedang → memerlukan pengendalian;
  • risiko tinggi → membutuhkan tindakan prioritas;
  • risiko sangat tinggi → membutuhkan perhatian manajemen.

Penentuan kategori harus mengikuti kriteria yang ditetapkan perguruan tinggi.


Strategi Mitigasi Risiko

Beberapa strategi yang dapat digunakan:

Menghindari Risiko

Tidak menjalankan aktivitas tertentu apabila risikonya tidak dapat diterima.

Mengurangi Risiko

Mengurangi kemungkinan atau dampaknya melalui pengendalian.

Membagi Risiko

Membagi atau mengalihkan sebagian risiko melalui mekanisme tertentu.

Menerima Risiko

Menerima risiko apabila berada dalam batas toleransi yang dapat diterima.


Risk Owner

Setiap risiko sebaiknya memiliki pihak yang bertanggung jawab.

Risk owner bertugas:

  • memantau risiko;
  • memastikan mitigasi berjalan;
  • melaporkan perkembangan;
  • mengevaluasi efektivitas pengendalian.

Penetapan tanggung jawab membuat pengelolaan risiko lebih jelas.


Risk Appetite dan Risk Tolerance

Perguruan tinggi perlu memahami tingkat risiko yang dapat diterima.

Risk appetite menggambarkan tingkat risiko yang bersedia diambil organisasi untuk mencapai tujuannya.

Risk tolerance menggambarkan batas variasi risiko yang masih dapat diterima.

Keduanya membantu pimpinan menentukan kapan suatu risiko membutuhkan tindakan.


Integrasi Risiko dengan Perencanaan Strategis

Manajemen risiko sebaiknya dimulai sejak penyusunan rencana strategis.

Hubungannya dapat digambarkan:

Sasaran → Risiko → Mitigasi → Program → Anggaran → Kinerja

Dengan demikian, risiko tidak menjadi dokumen terpisah dari proses perencanaan.


Integrasi Risiko dengan Anggaran

Setiap program memiliki risiko yang dapat memengaruhi penggunaan sumber daya.

Karena itu, perencanaan anggaran perlu mempertimbangkan:

  • risiko pelaksanaan;
  • kebutuhan pengendalian;
  • kebutuhan mitigasi;
  • kemungkinan perubahan;
  • dampak terhadap target.

Pembahasan ini dapat dikaitkan dengan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Perencanaan Anggaran Perguruan Tinggi.


Hubungan Manajemen Risiko dengan Audit

Audit dan manajemen risiko saling mendukung.

Manajemen risiko membantu mengidentifikasi area yang membutuhkan perhatian.

Audit dapat mengevaluasi apakah pengendalian risiko telah berjalan secara efektif.

Karena itu, materi ini memiliki hubungan langsung dengan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Audit Keuangan Perguruan Tinggi.


Manajemen Risiko dan Tata Kelola

Tata kelola yang baik membutuhkan mekanisme pengelolaan risiko.

Pimpinan perlu memastikan:

  • risiko utama diketahui;
  • tanggung jawab jelas;
  • pengendalian tersedia;
  • monitoring dilakukan;
  • laporan risiko tersedia;
  • keputusan mempertimbangkan risiko.

Hal tersebut memperkuat penerapan 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan Tata Kelola Perguruan Tinggi.


Manajemen Risiko Digital dan AI

Pemanfaatan teknologi dan AI di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat besar, tetapi juga memerlukan pengelolaan risiko.

Beberapa area yang perlu diperhatikan:

  • kualitas data;
  • keamanan informasi;
  • privasi;
  • akurasi informasi;
  • ketergantungan teknologi;
  • kompetensi pengguna;
  • tata kelola penggunaan AI.

Pembahasan teknologi dapat dilanjutkan melalui 🔗 INTERNAL LINK → Pelatihan AI untuk Perguruan Tinggi.


Monitoring dan Evaluasi Risiko

Monitoring dilakukan secara berkala untuk mengetahui:

  • apakah risiko berubah;
  • apakah tingkat risiko meningkat;
  • apakah mitigasi berjalan;
  • apakah pengendalian efektif;
  • apakah muncul risiko baru.

Evaluasi dapat digunakan untuk memperbarui risk register dan strategi mitigasi.


Indikator Risiko

Perguruan tinggi dapat menggunakan indikator untuk memberikan sinyal awal terhadap perubahan risiko.

Indikator dapat berupa:

  • peningkatan biaya;
  • penurunan pendapatan;
  • keterlambatan kegiatan;
  • peningkatan keluhan;
  • gangguan sistem;
  • peningkatan kesalahan;
  • penurunan capaian indikator.

Indikator perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing risiko.


Budaya Sadar Risiko

Manajemen risiko tidak akan efektif jika hanya menjadi tanggung jawab unit tertentu.

Perguruan tinggi perlu membangun budaya sadar risiko.

Budaya tersebut dapat dikembangkan melalui:

  • sosialisasi;
  • pelatihan;
  • komunikasi;
  • integrasi risiko dalam rapat;
  • pelaporan;
  • evaluasi;
  • keteladanan pimpinan.

Materi Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi

Program pelatihan dapat disusun dalam beberapa modul.

Modul 1 — Konsep Dasar Manajemen Risiko

  • pengertian;
  • tujuan;
  • prinsip;
  • manfaat.

Modul 2 — Tata Kelola dan Risiko

  • governance;
  • peran pimpinan;
  • tanggung jawab;
  • budaya risiko.

Modul 3 — Identifikasi Risiko

  • metode;
  • sumber risiko;
  • klasifikasi risiko.

Modul 4 — Analisis dan Evaluasi Risiko

  • kemungkinan;
  • dampak;
  • level risiko;
  • prioritas.

Modul 5 — Risk Register

  • penyusunan;
  • dokumentasi;
  • risk owner.

Modul 6 — Mitigasi Risiko

  • strategi;
  • pengendalian;
  • rencana tindakan.

Modul 7 — Monitoring Risiko

  • indikator;
  • pemantauan;
  • evaluasi.

Modul 8 — Risiko Keuangan

  • anggaran;
  • pendapatan;
  • belanja;
  • aset.

Modul 9 — Risiko Digital

  • sistem informasi;
  • data;
  • keamanan;
  • AI.

Modul 10 — Studi Kasus

Peserta melakukan simulasi identifikasi, penilaian, dan mitigasi risiko perguruan tinggi.


Peserta Pelatihan

Program dapat diikuti oleh:

  • Rektor;
  • Wakil Rektor;
  • Dekan;
  • Wakil Dekan;
  • kepala biro;
  • pimpinan unit;
  • pengelola keuangan;
  • perencana;
  • auditor internal;
  • pengelola risiko;
  • dosen;
  • tenaga kependidikan.

Metode Pelatihan

Pelatihan dapat menggunakan:

Presentasi Interaktif

Menyampaikan konsep dan pendekatan manajemen risiko.

Diskusi

Membahas risiko yang dihadapi institusi.

Studi Kasus

Menganalisis contoh risiko perguruan tinggi.

Simulasi

Menyusun risk register dan matriks risiko.

Praktik

Peserta melakukan identifikasi dan penilaian risiko.

Evaluasi

Mengukur pemahaman peserta.

Rencana Tindak Lanjut

Menyusun langkah penerapan di institusi.


Manfaat Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi

Peserta diharapkan mampu:

  • memahami konsep manajemen risiko;
  • mengidentifikasi risiko;
  • mengklasifikasikan risiko;
  • melakukan penilaian;
  • menentukan prioritas;
  • menyusun risk register;
  • menentukan risk owner;
  • menyusun mitigasi;
  • melakukan monitoring;
  • mengintegrasikan risiko dengan perencanaan dan anggaran.

Public Training, Inhouse Training dan Online Training

Public Training

Program terbuka untuk peserta dari berbagai perguruan tinggi.

Inhouse Training

Program dapat disesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan institusi.

Materi dapat difokuskan pada:

  • risiko strategis;
  • risiko keuangan;
  • risiko akademik;
  • risiko penelitian;
  • risiko SDM;
  • risiko digital;
  • risiko reputasi.

Online Training

Pelatihan dapat dilakukan secara daring melalui presentasi, diskusi, studi kasus, dan simulasi.


Cara Membangun Sistem Manajemen Risiko di Kampus

Perguruan tinggi dapat memulai dengan:

  1. menetapkan kebijakan;
  2. menentukan struktur pengelola risiko;
  3. menetapkan tujuan;
  4. mengidentifikasi risiko;
  5. melakukan penilaian;
  6. menentukan prioritas;
  7. menyusun mitigasi;
  8. menetapkan risk owner;
  9. melakukan monitoring;
  10. melaporkan hasil;
  11. melakukan evaluasi;
  12. memperbaiki sistem.

Penerapan sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai kapasitas dan karakteristik institusi.


Contoh Tema Pelatihan

Beberapa tema yang dapat dikembangkan:

  • Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi;
  • Pelatihan Manajemen Risiko Kampus;
  • Pelatihan Risk Management Perguruan Tinggi;
  • Pelatihan Manajemen Risiko Keuangan Kampus;
  • Pelatihan Manajemen Risiko Berbasis Tata Kelola;
  • Pelatihan Identifikasi dan Mitigasi Risiko Perguruan Tinggi;
  • Pelatihan Penyusunan Risk Register Perguruan Tinggi;
  • Pelatihan Manajemen Risiko Strategis Perguruan Tinggi;
  • Pelatihan Manajemen Risiko Digital Perguruan Tinggi.

FAQ Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi

Apa itu manajemen risiko perguruan tinggi?

Manajemen risiko adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, mengendalikan, dan memantau risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan perguruan tinggi.

Mengapa perguruan tinggi membutuhkan manajemen risiko?

Karena perguruan tinggi menghadapi berbagai risiko strategis, operasional, keuangan, akademik, SDM, teknologi, kepatuhan, dan reputasi.

Siapa yang perlu mengikuti pelatihan?

Pimpinan perguruan tinggi, pengelola risiko, auditor internal, perencana, pengelola keuangan, pimpinan unit, dosen, dan tenaga kependidikan.

Apakah pelatihan membahas risk register?

Ya. Peserta dapat mempelajari penyusunan risk register, penilaian risiko, mitigasi, dan monitoring.

Apakah ada praktik?

Ya. Program dapat dilengkapi studi kasus dan simulasi penyusunan risk register.

Apakah dapat dilakukan secara inhouse?

Ya. Materi dapat disesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan institusi.

Apakah tersedia pelatihan online?

Ya. Pelatihan dapat diselenggarakan secara daring.


Penutup

Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi merupakan bagian penting dalam membangun institusi yang tangguh, adaptif, dan mampu menghadapi perubahan.

Manajemen risiko membantu perguruan tinggi tidak hanya merespons masalah setelah terjadi, tetapi juga mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat menghambat pencapaian tujuan.

Dengan proses identifikasi, analisis, evaluasi, mitigasi, monitoring, dan evaluasi yang sistematis, institusi dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengendalian.

Manajemen risiko juga perlu diintegrasikan dengan tata kelola, perencanaan strategis, anggaran, audit, pengelolaan SDM, teknologi informasi, penelitian, dan sistem penjaminan mutu.

Program dapat diselenggarakan melalui public training, inhouse training, maupun online training, dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.

Butuh Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi untuk institusi Anda? Konsultasikan tema, materi, peserta, durasi, dan format pelatihan agar program dapat dirancang secara tepat sasaran.

Pelatihan Manajemen Risiko Perguruan Tinggi Strategi Membangun Tata Kelola Kampus yang Tangguh dan Berkelanjutan




author-avatar

Tentang Bimtek PSKN

PT. PUSAT STUDI DAN KONSULTASI NASIONAL adalah Salah satu Perusahaan Bergerak di bidang Pengambangan SDM Dan Teknologi Informasi.