Pelatihan Geospasial/GIS

Pelatihan GIS untuk Bappeda: Integrasi Data Spasial dalam Perencanaan Pembangunan Berbasis Data

Pelatihan GIS untuk Bappeda Integrasi Data Spasial dalam Perencanaan Pembangunan Berbasis Data

Peran Strategis Bappeda dalam Perencanaan Pembangunan Berbasis Data

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) memiliki posisi strategis dalam memastikan proses pembangunan daerah berjalan berdasarkan kebutuhan, potensi, permasalahan, serta karakteristik wilayah. Dalam menjalankan fungsi tersebut, Bappeda membutuhkan data yang akurat, terintegrasi, mutakhir, dan mampu memberikan gambaran kondisi daerah secara menyeluruh.

Selama ini data perencanaan sering disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dokumen, dan indikator statistik. Informasi tersebut sangat penting, tetapi belum selalu mampu menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan lokasi.

Misalnya, pemerintah daerah mengetahui jumlah penduduk miskin di suatu kabupaten. Namun, perencana juga perlu mengetahui di mana penduduk miskin tersebut berada, bagaimana akses mereka terhadap fasilitas publik, seperti kondisi infrastruktur di wilayah tersebut, dan bagaimana karakteristik lingkungan sekitarnya.

Di sinilah Geographic Information System (GIS) menjadi sangat penting.

GIS memungkinkan data pembangunan dikaitkan dengan lokasi geografis sehingga Bappeda dapat melihat pola, persebaran, hubungan, dan karakteristik pembangunan secara spasial.

Dengan pemanfaatan GIS yang baik, proses perencanaan dapat bergerak dari sekadar data-driven planning menuju perencanaan yang juga mempertimbangkan spatial context.

Bagi Bappeda dan perangkat daerah yang ingin memperkuat kemampuan pengelolaan data spasial, pembahasan Bimtek Geographic Information System (GIS): Strategi Pengelolaan Data Spasial untuk Perencanaan, Pemetaan dan Pengambilan Keputusan dapat menjadi referensi untuk memahami GIS secara lebih luas.

Apa Itu GIS dan Mengapa Relevan untuk Bappeda?

Geographic Information System atau GIS merupakan sistem yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, menganalisis, dan menyajikan data yang memiliki referensi geografis.

Dalam konteks Bappeda, GIS dapat menjadi alat untuk menghubungkan:

data pembangunan + lokasi + analisis wilayah + visualisasi.

Sebagai contoh, Bappeda memiliki data mengenai:

  • Jumlah penduduk.
  • Tingkat kemiskinan.
  • Pertumbuhan ekonomi.
  • Infrastruktur.
  • Fasilitas pendidikan.
  • Fasilitas kesehatan.
  • Kondisi jalan.
  • Penggunaan lahan.
  • Potensi pertanian.
  • Risiko bencana.

Data tersebut dapat diintegrasikan ke dalam sistem GIS sehingga perencana dapat melihat hubungan antarindikator berdasarkan lokasi.

Dengan pendekatan tersebut, GIS tidak hanya menghasilkan peta, tetapi juga informasi yang dapat membantu menjawab persoalan pembangunan.

Mengapa Bappeda Membutuhkan Kompetensi GIS?

Perencanaan pembangunan daerah semakin membutuhkan informasi yang bersifat multidimensi.

Bappeda tidak hanya perlu mengetahui berapa banyak, tetapi juga:

  • Di mana masalah terjadi?
  • Wilayah mana yang paling membutuhkan intervensi?
  • Apa hubungan antara satu indikator dengan indikator lainnya?
  • Bagaimana distribusi pembangunan antarwilayah?
  • Apakah suatu program telah menjangkau wilayah sasaran?
  • Wilayah mana yang memiliki potensi pengembangan?
  • Wilayah mana yang memiliki risiko lebih tinggi?

GIS membantu menjawab pertanyaan tersebut melalui pendekatan spasial.

Beberapa manfaat GIS untuk Bappeda antara lain:

  1. Memperkuat analisis kondisi wilayah.
  2. Mengintegrasikan data lintas perangkat daerah.
  3. Mendukung perencanaan berbasis lokasi.
  4. Mengidentifikasi ketimpangan antarwilayah.
  5. Membantu menentukan prioritas pembangunan.
  6. Mendukung monitoring program.
  7. Mempermudah penyajian informasi kepada pimpinan.
  8. Meningkatkan kualitas visualisasi data pembangunan.

Integrasi Data Spasial dan Data Sektoral

Salah satu tantangan utama dalam perencanaan pembangunan adalah banyaknya data yang tersebar pada berbagai perangkat daerah.

Dinas kesehatan memiliki data kesehatan. Dinas pendidikan memiliki data sekolah. Dinas PUPR memiliki data infrastruktur. Dinas sosial memiliki data kesejahteraan. Dinas pertanian memiliki data komoditas dan lahan.

GIS dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menghubungkan berbagai data tersebut berdasarkan lokasi.

Perangkat Daerah Contoh Data Potensi Integrasi GIS
Bappeda Indikator pembangunan Analisis wilayah
Dinas Kesehatan Fasilitas kesehatan Akses pelayanan
Dinas Pendidikan Sekolah Jangkauan pendidikan
Dinas PUPR Jalan dan jembatan Aksesibilitas
Dinas Sosial Data kemiskinan Pemetaan prioritas
Dinas Pertanian Lahan pertanian Potensi komoditas
DLH Tutupan lahan Analisis lingkungan
BPBD Risiko bencana Pemetaan risiko

Dengan integrasi tersebut, Bappeda dapat memperoleh perspektif lintas sektor yang lebih komprehensif.

GIS sebagai Instrumen Perencanaan Pembangunan Berbasis Data

Perencanaan pembangunan berbasis data membutuhkan data yang dapat digunakan untuk memahami kondisi aktual.

Namun, data statistik saja terkadang belum cukup.

Contohnya, dua kecamatan mungkin memiliki tingkat kemiskinan yang sama. Akan tetapi, Kecamatan A memiliki akses jalan yang baik dan fasilitas kesehatan yang memadai, sedangkan Kecamatan B memiliki akses transportasi terbatas dan jarak fasilitas kesehatan yang jauh.

Secara statistik, keduanya terlihat sama. Namun secara spasial, kebutuhan intervensinya dapat berbeda.

GIS membantu menambahkan dimensi lokasi ke dalam analisis.

Dengan demikian, perencanaan pembangunan dapat mempertimbangkan:

angka + lokasi + kondisi wilayah + hubungan spasial.

Peran GIS dalam Penyusunan Dokumen Perencanaan

Bappeda memiliki berbagai kebutuhan data untuk mendukung proses perencanaan pembangunan daerah.

GIS dapat membantu dalam penyediaan informasi spasial untuk berbagai kebutuhan, seperti:

  • Analisis kondisi daerah.
  • Identifikasi permasalahan pembangunan.
  • Analisis potensi wilayah.
  • Penentuan isu strategis.
  • Penentuan lokasi program.
  • Analisis ketimpangan wilayah.
  • Penyusunan indikator berbasis lokasi.
  • Monitoring pembangunan.
  • Evaluasi program.

Peta dan analisis spasial dapat menjadi pelengkap informasi statistik sehingga dokumen perencanaan memiliki konteks wilayah yang lebih kuat.

GIS untuk Analisis Ketimpangan Antarwilayah

Ketimpangan pembangunan merupakan salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam perencanaan daerah.

GIS dapat digunakan untuk memetakan berbagai indikator pembangunan berdasarkan kecamatan, desa, atau satuan wilayah lainnya.

Contohnya:

  • PDRB.
  • Kemiskinan.
  • Pengangguran.
  • Akses pendidikan.
  • Akses kesehatan.
  • Kondisi jalan.
  • Akses air bersih.
  • Kepadatan penduduk.
  • Infrastruktur dasar.

Hasilnya dapat divisualisasikan menggunakan peta tematik.

Dengan melihat peta tersebut, Bappeda dapat mengidentifikasi wilayah yang mempunyai kombinasi indikator kurang baik.

Analisis Spasial untuk Menentukan Prioritas

GIS memungkinkan Bappeda melakukan analisis yang lebih kompleks untuk menentukan wilayah prioritas.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) atau analisis keputusan berdasarkan beberapa kriteria.

Sebagai contoh, pemerintah ingin menentukan wilayah prioritas pembangunan infrastruktur dasar.

Kriteria dapat meliputi:

  1. Kepadatan penduduk.
  2. Tingkat kemiskinan.
  3. Kondisi jalan.
  4. Jarak terhadap fasilitas pelayanan.
  5. Tingkat akses air bersih.
  6. Risiko bencana.
  7. Potensi ekonomi.

Setiap kriteria dapat diberikan bobot berdasarkan kebijakan dan tujuan program.

Hasil analisis dapat menghasilkan klasifikasi seperti:

Kategori Makna
Sangat Prioritas Membutuhkan intervensi segera
Prioritas Tinggi Membutuhkan intervensi signifikan
Prioritas Menengah Perlu perhatian
Prioritas Rendah Intervensi dapat dijadwalkan

Hasil tersebut bukan keputusan otomatis, tetapi menjadi evidence yang dapat digunakan dalam proses perencanaan.

GIS untuk Analisis Aksesibilitas Pelayanan Publik

Bappeda juga dapat memanfaatkan GIS untuk menganalisis akses masyarakat terhadap fasilitas publik.

Misalnya, analisis akses terhadap:

  • Rumah sakit.
  • Puskesmas.
  • Sekolah.
  • Pasar.
  • Terminal.
  • Kantor pelayanan.
  • Fasilitas air bersih.

Analisis tidak hanya melihat jarak secara garis lurus, tetapi dapat dikembangkan menggunakan jaringan jalan dan waktu tempuh.

Dengan demikian, pemerintah dapat mengetahui wilayah yang relatif jauh atau sulit mengakses pelayanan.

GIS untuk Pemetaan Kemiskinan

Kemiskinan merupakan indikator yang sangat penting dalam perencanaan pembangunan.

GIS dapat digunakan untuk memvisualisasikan persebaran kemiskinan dan menghubungkannya dengan variabel lain.

Sebagai contoh:

Peta kemiskinan + peta fasilitas kesehatan + peta jalan + peta pendidikan.

Analisis tersebut dapat memberikan gambaran mengenai wilayah yang memiliki tingkat kebutuhan pembangunan lebih tinggi.

Bappeda kemudian dapat menggunakannya sebagai salah satu bahan untuk menentukan lokasi program prioritas.

GIS untuk Perencanaan Infrastruktur

Infrastruktur memiliki hubungan erat dengan lokasi.

Pembangunan jalan, jembatan, jaringan air, drainase, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur lainnya harus mempertimbangkan karakteristik wilayah.

GIS dapat membantu Bappeda melihat:

  • Lokasi infrastruktur eksisting.
  • Kondisi infrastruktur.
  • Wilayah belum terlayani.
  • Jarak antar fasilitas.
  • Hubungan dengan kepadatan penduduk.
  • Hubungan dengan pusat pertumbuhan ekonomi.
  • Hubungan dengan kawasan strategis.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun alternatif intervensi pembangunan.

GIS dalam Perencanaan Tata Ruang

Perencanaan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari tata ruang.

Pemanfaatan GIS memungkinkan berbagai informasi spasial dianalisis secara bersamaan.

Misalnya:

  • Kawasan permukiman.
  • Kawasan pertanian.
  • Kawasan industri.
  • Kawasan lindung.
  • Jaringan transportasi.
  • Kawasan rawan bencana.
  • Kawasan pesisir.
  • Pusat pertumbuhan.

Overlay berbagai layer tersebut dapat membantu memahami kesesuaian dan potensi konflik pemanfaatan ruang.

GIS untuk Analisis Potensi Ekonomi Daerah

Setiap daerah memiliki potensi ekonomi yang berbeda.

GIS dapat membantu memetakan potensi:

  • Pertanian.
  • Perikanan.
  • Pariwisata.
  • Industri.
  • Perdagangan.
  • Perkebunan.
  • Peternakan.

Sebagai contoh, pengembangan kawasan pariwisata dapat dianalisis dengan mempertimbangkan:

  • Lokasi objek wisata.
  • Akses jalan.
  • Jarak dari pusat kota.
  • Penginapan.
  • Fasilitas umum.
  • Kondisi lingkungan.
  • Kepadatan penduduk.

Dengan pendekatan tersebut, Bappeda dapat memiliki gambaran spasial mengenai potensi pengembangan ekonomi wilayah.

GIS untuk Monitoring dan Evaluasi Pembangunan

GIS dapat digunakan untuk memonitor lokasi program pembangunan.

Misalnya Bappeda memiliki data proyek:

Informasi Contoh
Nama program Pembangunan jalan
Lokasi Kecamatan A
Anggaran Sesuai dokumen kegiatan
Tahun 2026
Status Perencanaan/Pelaksanaan/Selesai
Koordinat Lokasi proyek
Output Panjang jalan

Data tersebut dapat ditampilkan pada peta.

Jika digabungkan dengan dashboard, pimpinan dapat melihat persebaran program pembangunan secara visual.

Dashboard GIS untuk Bappeda

Perkembangan teknologi memungkinkan GIS diintegrasikan dengan dashboard.

Dashboard dapat menyajikan berbagai indikator dalam satu tampilan.

Contohnya:

Dashboard Pembangunan Daerah

  • Peta kemiskinan.
  • Peta infrastruktur.
  • Peta kesehatan.
  • Peta pendidikan.
  • Peta proyek pembangunan.
  • Indikator ekonomi.
  • Grafik perkembangan indikator.
  • Filter berdasarkan kecamatan.
  • Filter berdasarkan tahun.

Dashboard semacam ini dapat membantu pimpinan memperoleh gambaran kondisi pembangunan secara lebih cepat.

Pemanfaatan Data Geospasial Pemerintah

Pengembangan GIS di Bappeda membutuhkan sumber data geospasial yang dapat dipertanggungjawabkan.

Badan Informasi Geospasial (BIG) merupakan lembaga pemerintah yang mempunyai tugas dalam penyelenggaraan informasi geospasial nasional.

Informasi mengenai data, layanan, kebijakan, dan berbagai produk geospasial dapat diperoleh melalui situs resmi Badan Informasi Geospasial.

Bappeda juga dapat mengenal Ina-Geoportal sebagai salah satu sumber informasi geospasial nasional.

Dalam pemanfaatan data, penting bagi Bappeda untuk memperhatikan:

  • Sumber data.
  • Tahun data.
  • Skala.
  • Sistem koordinat.
  • Akurasi.
  • Metadata.
  • Status pemutakhiran.
  • Ketentuan pemanfaatan.

Pentingnya Standarisasi Data Spasial

Integrasi data tidak akan berjalan optimal apabila setiap perangkat daerah menggunakan standar berbeda.

Sebagai contoh, satu perangkat daerah menggunakan sistem koordinat tertentu, sedangkan perangkat lainnya menggunakan sistem berbeda. Jika tidak ditangani dengan benar, data dapat mengalami pergeseran posisi atau kesalahan interpretasi.

Standarisasi perlu mencakup:

  • Format data.
  • Sistem koordinat.
  • Struktur atribut.
  • Penamaan layer.
  • Metadata.
  • Skala.
  • Kode wilayah.
  • Mekanisme pembaruan.

Standar tersebut membantu meningkatkan interoperabilitas data antarunit kerja.

Tantangan Bappeda dalam Mengintegrasikan Data GIS

Walaupun GIS memberikan banyak manfaat, penerapannya memiliki tantangan.

Data Tersebar

Data berada pada banyak perangkat daerah dan belum tentu mudah diintegrasikan.

Format Berbeda

Setiap instansi dapat menggunakan struktur data yang berbeda.

Data Tidak Mutakhir

Data lama dapat menyebabkan analisis tidak lagi menggambarkan kondisi aktual.

Keterbatasan SDM

Tidak semua pegawai mempunyai kompetensi GIS dan analisis spasial.

Kualitas Data

Kesalahan koordinat, atribut, digitasi, atau sumber data dapat memengaruhi hasil.

Tata Kelola

Diperlukan kebijakan mengenai siapa yang mengelola, memperbarui, memvalidasi, dan menggunakan data.

Karena itu, pelatihan GIS untuk Bappeda perlu mencakup aspek teknis sekaligus tata kelola data.

Kompetensi yang Perlu Dimiliki SDM Bappeda

SDM Bappeda tidak semuanya harus menjadi ahli GIS tingkat lanjut. Namun, terdapat kompetensi dasar yang penting untuk dimiliki.

Kompetensi tersebut antara lain:

  1. Memahami konsep GIS.
  2. Memahami data spasial dan atribut.
  3. Memahami sistem koordinat.
  4. Mengelola layer.
  5. Melakukan digitasi dasar.
  6. Mengelola atribut.
  7. Melakukan analisis spasial.
  8. Membuat peta tematik.
  9. Membaca hasil analisis spasial.
  10. Mengintegrasikan data sektoral.
  11. Memahami metadata.
  12. Menyajikan informasi dalam dashboard atau visualisasi.

Bagi staf tertentu, kompetensi dapat dikembangkan lebih lanjut ke arah database spasial, remote sensing, Web GIS, dan analisis geospasial lanjutan.

Model Pelatihan GIS yang Efektif untuk Bappeda

Program Pelatihan GIS untuk Bappeda sebaiknya dirancang dengan pendekatan berbasis kasus nyata.

Metode pembelajaran dapat terdiri dari:

  • Pemaparan konsep.
  • Demonstrasi.
  • Praktik langsung.
  • Studi kasus.
  • Diskusi.
  • Analisis data.
  • Penyusunan peta.
  • Presentasi hasil.

Studi kasus sebaiknya menggunakan contoh persoalan yang dekat dengan pekerjaan Bappeda.

Misalnya:

Analisis wilayah prioritas pembangunan berdasarkan kemiskinan, kepadatan penduduk, akses fasilitas publik, kondisi jalan, dan risiko bencana.

Dengan demikian, peserta tidak hanya belajar cara menggunakan aplikasi, tetapi juga belajar bagaimana menerjemahkan masalah pembangunan menjadi analisis spasial.

Contoh Alur Kerja GIS untuk Bappeda

Berikut contoh workflow yang dapat diterapkan:

Identifikasi masalah → Inventarisasi data → Validasi data → Integrasi layer → Analisis spasial → Visualisasi → Interpretasi → Rekomendasi

Tahapan tersebut penting karena GIS bukan sekadar proses teknis.

Hasil analisis harus diterjemahkan menjadi informasi yang relevan bagi perencana dan pengambil kebijakan.

Hubungan GIS dengan Transformasi Digital Pemerintah

Transformasi digital pemerintahan membutuhkan kemampuan untuk mengelola data secara terintegrasi.

GIS dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Ketika data spasial terhubung dengan:

  • Database.
  • Dashboard.
  • Cloud.
  • Mobile application.
  • Sensor.
  • Citra satelit.
  • Drone.
  • Artificial Intelligence.

maka kemampuan analisis wilayah dapat berkembang secara signifikan.

Bappeda dapat bergerak menuju sistem perencanaan yang lebih dinamis, informatif, dan berbasis data.

GIS dan Pengambilan Keputusan Pimpinan

Salah satu keunggulan visualisasi GIS adalah kemampuannya menyederhanakan informasi kompleks.

Pimpinan mungkin tidak memiliki waktu untuk membaca banyak tabel. Namun, sebuah peta dengan visualisasi yang tepat dapat menunjukkan pola tertentu secara cepat.

Contohnya, sebuah dashboard dapat menunjukkan:

Wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi + akses kesehatan rendah + infrastruktur jalan buruk.

Informasi tersebut dapat menjadi sinyal bagi pimpinan untuk melihat wilayah tersebut lebih lanjut.

GIS dengan demikian dapat berfungsi sebagai alat komunikasi data sekaligus alat bantu analisis.

Masa Depan GIS untuk Bappeda

Perkembangan GIS semakin menuju integrasi dengan teknologi baru.

Beberapa tren yang relevan antara lain:

  • Web GIS.
  • Cloud GIS.
  • Dashboard interaktif.
  • Mobile GIS.
  • Remote sensing.
  • Drone mapping.
  • Big data spasial.
  • Internet of Things.
  • Artificial Intelligence.
  • Digital twin.

AI, misalnya, dapat digunakan untuk membantu klasifikasi citra, mendeteksi perubahan penggunaan lahan, mengenali objek, atau menganalisis pola tertentu.

Namun, penerapan teknologi tersebut tetap membutuhkan fondasi berupa data spasial yang berkualitas dan SDM yang memahami prinsip dasar GIS.

Kesimpulan

Pelatihan GIS untuk Bappeda: Integrasi Data Spasial dalam Perencanaan Pembangunan Berbasis Data merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas perencana dalam memanfaatkan informasi geografis.

GIS memungkinkan Bappeda menghubungkan berbagai data sektoral dengan lokasi sehingga analisis pembangunan menjadi lebih kontekstual. Dengan GIS, pemerintah dapat memetakan kemiskinan, menganalisis akses pelayanan publik, menentukan prioritas pembangunan, mengelola infrastruktur, memantau program, serta mengidentifikasi potensi dan permasalahan wilayah.

Keberhasilan implementasi GIS tidak hanya bergantung pada teknologi. Kualitas data, standardisasi, interoperabilitas, tata kelola, pemutakhiran informasi, serta kompetensi SDM merupakan faktor penting yang harus dibangun secara bersamaan.

Bappeda yang mampu mengintegrasikan data spasial dengan data pembangunan memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan perencanaan yang lebih terukur, kontekstual, transparan, dan berbasis bukti.

Pada akhirnya, GIS bukan hanya alat untuk membuat peta. GIS adalah instrumen untuk mengubah data lokasi menjadi informasi yang dapat membantu pemerintah memahami wilayah, menetapkan prioritas, dan menghasilkan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

FAQ

1. Mengapa GIS penting bagi Bappeda?

GIS membantu Bappeda menghubungkan data pembangunan dengan lokasi sehingga dapat memahami persebaran masalah, potensi wilayah, ketimpangan antarwilayah, dan kebutuhan pembangunan secara lebih mendalam.

2. Data apa saja yang dapat diintegrasikan dalam GIS Bappeda?

Data yang dapat diintegrasikan sangat beragam, seperti data penduduk, kemiskinan, kesehatan, pendidikan, jalan, infrastruktur, penggunaan lahan, ekonomi, lingkungan, dan risiko bencana.

3. Apakah pelatihan GIS untuk Bappeda harus diikuti oleh staf GIS saja?

Tidak. Pelatihan dapat ditujukan kepada perencana, analis kebijakan, pengelola data, pejabat teknis, maupun staf lain yang membutuhkan kemampuan membaca dan memanfaatkan informasi spasial dalam proses perencanaan.

4. Apakah GIS dapat membantu menentukan prioritas pembangunan?

Ya. GIS dapat menggabungkan berbagai indikator melalui analisis spasial dan multi-kriteria untuk menghasilkan informasi mengenai wilayah yang memiliki tingkat kebutuhan atau prioritas tertentu. Hasil tersebut kemudian dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Tingkatkan Kapasitas Bappeda dalam Perencanaan Berbasis Data Spasial

Saatnya mengoptimalkan data spasial sebagai bagian dari proses perencanaan pembangunan yang lebih terintegrasi, akurat, dan berbasis kondisi wilayah. Tingkatkan kompetensi tim Bappeda dalam mengolah, mengintegrasikan, menganalisis, dan memvisualisasikan data spasial untuk mendukung penyusunan kebijakan dan prioritas pembangunan daerah.

Hubungi PT. Pusat Studi dan Konsultasi Nasional (PSKN) untuk memperoleh informasi mengenai materi, jadwal, narasumber, dan penyelenggaraan Pelatihan GIS untuk Bappeda yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan instansi.

Pelatihan GIS untuk Bappeda Integrasi Data Spasial dalam Perencanaan Pembangunan Berbasis Data




author-avatar

Tentang Bimtek PSKN

PT. PUSAT STUDI DAN KONSULTASI NASIONAL adalah Salah satu Perusahaan Bergerak di bidang Pengambangan SDM Dan Teknologi Informasi.