Bimtek BLUD Rumah Sakit

Peran Satuan Pengawas Internal (SPI) dalam Meningkatkan Akuntabilitas Rumah Sakit BLUD

Peran Satuan Pengawas Internal (SPI) dalam Meningkatkan Akuntabilitas Rumah Sakit BLUD

Rumah Sakit berstatus BLUD memiliki fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan, layanan, dan operasional. Fleksibilitas ini menjadi keunggulan besar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat. Namun di sisi lain, fleksibilitas tersebut menghadirkan potensi risiko tata kelola apabila tidak diimbangi dengan sistem pengawasan internal yang kuat.

Di sinilah Satuan Pengawas Internal (SPI) memegang peranan sangat strategis. SPI bukan sekadar unit pemeriksa administrasi, tetapi menjadi garda terdepan dalam memastikan bahwa seluruh proses layanan, keuangan, pengadaan, hingga pengelolaan aset berjalan sesuai prinsip akuntabilitas, transparansi, dan efisiensi.

Penguatan peran SPI menjadi salah satu kunci keberhasilan pengawasan internal di RS BLUD, sebagaimana banyak ditekankan dalam berbagai kebijakan tata kelola pemerintah dan pedoman pengendalian internal oleh BPKP (lihat pedoman resmi di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan – https://www.bpkp.go.id).

Artikel ini membahas secara komprehensif bagaimana SPI dapat meningkatkan akuntabilitas rumah sakit BLUD melalui pendekatan pengawasan berbasis risiko dan integrasi dengan mutu layanan.

Mengapa SPI Sangat Penting di Rumah Sakit BLUD?

RS BLUD berbeda dengan unit kerja biasa karena memiliki:

  • Pola pengelolaan keuangan yang fleksibel

  • Sumber pendapatan dari jasa layanan

  • Volume transaksi tinggi setiap hari

  • Pengadaan obat dan alat kesehatan yang kompleks

  • Klaim BPJS dengan prosedur administrasi ketat

  • Tuntutan mutu layanan dan akreditasi

Semua aktivitas tersebut memiliki potensi risiko tinggi jika tidak diawasi dengan sistematis.

Tanpa SPI yang aktif dan kompeten, berbagai masalah sering muncul seperti:

  • Temuan audit berulang

  • Selisih persediaan obat

  • Ketidaksesuaian belanja dengan RBA

  • Kesalahan pencatatan pendapatan layanan

  • Keterlambatan klaim BPJS

  • Konflik kepentingan pengadaan

Perubahan Paradigma SPI: Dari Pemeriksa Menjadi Mitra Strategis

Dahulu SPI sering dipersepsikan sebagai “pencari kesalahan”. Kini paradigma tersebut telah berubah.

SPI modern berperan sebagai:

  • Konsultan internal

  • Pencegah risiko

  • Pemberi peringatan dini (early warning system)

  • Mitra manajemen dalam tata kelola

Pendekatan ini selaras dengan pengawasan internal berbasis risiko (risk based internal control) yang banyak diterapkan di instansi pemerintah.

Area Rawan yang Harus Diawasi SPI di RS BLUD

SPI perlu memahami titik rawan risiko di rumah sakit. Berikut gambaran area kritis:

Area Potensi Risiko Dampak
Farmasi Stok tidak akurat Obat kosong, layanan terganggu
Keuangan Salah pencatatan pendapatan Temuan audit
Pengadaan Konflik kepentingan Kerugian keuangan
Klaim BPJS Dokumen tidak lengkap Klaim ditolak
Gudang Alkes Tidak ada kontrol fisik Kehilangan aset
Pelayanan Ketidaktertiban administrasi Waktu tunggu pasien lama

SPI harus hadir di seluruh proses ini, bukan hanya saat pemeriksaan tahunan.

Hubungan SPI dengan Akuntabilitas Keuangan Rumah Sakit

Akuntabilitas keuangan bukan hanya laporan keuangan yang rapi, tetapi mencakup:

  • Ketepatan penggunaan anggaran

  • Kesesuaian belanja dengan RBA

  • Kejelasan sumber dan penggunaan pendapatan layanan

  • Tertib administrasi transaksi harian

  • Dokumentasi yang lengkap

SPI berperan memastikan semua proses tersebut berjalan sesuai aturan.

Pendekatan Pengawasan SPI Berbasis Risiko

SPI yang efektif menggunakan pendekatan berikut:

  1. Mengidentifikasi risiko di setiap unit

  2. Menyusun peta risiko rumah sakit

  3. Membuat risk register

  4. Menentukan prioritas pengawasan

  5. Melakukan monitoring berkala

Contoh sederhana risk register:

Unit Risiko Level Risiko Tindakan Pengendalian
Farmasi Selisih stok Tinggi Stok opname rutin
Keuangan Salah jurnal Sedang Rekonsiliasi mingguan

Keterkaitan SPI dengan Mutu Layanan Rumah Sakit

Mutu layanan tidak bisa dilepaskan dari tata kelola internal. Beberapa contoh nyata:

  • Obat kosong karena stok tidak diawasi → pasien menunggu

  • Jadwal dokter tidak tertib → antrian panjang

  • Administrasi lambat → waktu tunggu meningkat

  • Pengadaan alkes terlambat → tindakan medis tertunda

SPI membantu memastikan semua proses penunjang layanan berjalan baik.

Contoh Kasus Nyata Peran SPI

Sebuah RS BLUD mengalami temuan audit terkait selisih persediaan obat ratusan juta rupiah.

Setelah dilakukan evaluasi oleh SPI:

  • Tidak ada SOP stok opname berkala

  • Tidak ada pemetaan risiko di unit farmasi

  • Tidak ada rekonsiliasi data sistem dan fisik

SPI kemudian:

  • Menyusun risk register farmasi

  • Membuat SOP pengendalian

  • Melakukan monitoring bulanan

Hasilnya, pada audit berikutnya tidak ditemukan selisih lagi.

Kompetensi yang Harus Dimiliki SPI RS BLUD

SPI harus memiliki pemahaman lintas bidang:

  • Pengelolaan keuangan BLUD

  • Pengadaan barang/jasa

  • Manajemen risiko

  • Proses layanan rumah sakit

  • Sistem klaim BPJS

  • Standar akreditasi RS

Inilah mengapa peningkatan kapasitas SPI melalui pelatihan sangat penting, seperti pada program
Bimtek Bimtek Penguatan Pengawasan Internal Rumah Sakit BLU/BLUD

Strategi Penguatan Peran SPI di Rumah Sakit

Beberapa langkah yang dapat dilakukan manajemen:

  • Melibatkan SPI dalam rapat manajemen

  • Memberikan akses data yang memadai

  • Menjadikan risk register sebagai dokumen wajib

  • Menjadikan SPI sebagai bagian dari peningkatan mutu

Indikator Keberhasilan SPI dalam Meningkatkan Akuntabilitas

Indikator Kondisi Sebelum Kondisi Setelah SPI Aktif
Temuan audit Berulang Menurun signifikan
Ketertiban administrasi Lemah Tertib
Mutu layanan Tidak stabil Lebih konsisten
Pengendalian obat Sering selisih Terkontrol
Kepatuhan SOP Rendah Meningkat

Hubungan SPI dengan Standar Akreditasi Rumah Sakit

Banyak elemen akreditasi menuntut:

  • Pengendalian dokumen

  • Pengelolaan obat

  • Keselamatan pasien

  • Tata kelola organisasi

SPI membantu memastikan seluruh elemen tersebut berjalan sesuai standar.

Informasi standar pelayanan dan tata kelola rumah sakit dapat dilihat pada Kementerian Kesehatan RI – https://www.kemkes.go.id.

Tantangan yang Sering Dihadapi SPI

Beberapa kendala umum:

  • Kurangnya dukungan manajemen

  • Keterbatasan SDM SPI

  • Kurangnya pemahaman unit kerja tentang risiko

  • SPI hanya dilibatkan saat audit

Solusinya adalah penguatan kapasitas dan peran strategis SPI.

FAQ Seputar Peran SPI di RS BLUD

1. Apakah SPI hanya bertugas saat audit?
Tidak. SPI harus aktif sepanjang tahun sebagai pengawas preventif.

2. Apakah SPI perlu memahami proses layanan medis?
Ya, karena banyak risiko berasal dari proses layanan.

3. Apakah SPI berpengaruh pada mutu layanan?
Sangat berpengaruh melalui pengendalian proses penunjang layanan.

4. Bagaimana cara meningkatkan kompetensi SPI?
Melalui pelatihan, bimtek, dan praktik penyusunan risk register.

Penutup

Peran Satuan Pengawas Internal di Rumah Sakit BLUD sangat menentukan kualitas tata kelola organisasi. SPI bukan lagi unit pelengkap, tetapi menjadi elemen kunci dalam menjaga akuntabilitas keuangan, efektivitas operasional, serta mutu layanan kepada masyarakat.

Dengan pengawasan berbasis risiko, SPI mampu mencegah berbagai potensi masalah sebelum terjadi, membantu manajemen mengambil keputusan yang tepat, serta memastikan rumah sakit berjalan sesuai prinsip transparansi dan profesionalisme.

Segera tingkatkan kapasitas SPI rumah sakit Anda melalui program pelatihan yang tepat agar akuntabilitas dan mutu layanan meningkat secara nyata.

Peran Satuan Pengawas Internal (SPI) dalam Meningkatkan Akuntabilitas Rumah Sakit BLUD




author-avatar

Tentang Bimtek PSKN

PT. PUSAT STUDI DAN KONSULTASI NASIONAL adalah Salah satu Perusahaan Bergerak di bidang Pengambangan SDM Dan Teknologi Informasi.