Pelatihan Geospasial/GIS

Pelatihan Integrasi GIS dan Drone untuk Pemetaan dan Monitoring Wilayah

Pelatihan Integrasi GIS dan Drone untuk Pemetaan dan Monitoring Wilayah

Daftar Isi

Transformasi Pemetaan dengan Integrasi GIS dan Drone

Perkembangan teknologi geospasial telah membawa perubahan besar dalam cara organisasi melakukan pemetaan dan monitoring wilayah. Jika sebelumnya pemetaan sangat bergantung pada survei lapangan dan pengukuran manual, kini proses tersebut dapat diperkuat dengan kombinasi Geographic Information System (GIS) dan teknologi drone atau Unmanned Aircraft System (UAS).

Drone mampu menghasilkan data visual dan geospasial dengan detail tinggi pada area yang relatif luas dalam waktu yang lebih singkat. Sementara itu, GIS memungkinkan data tersebut dikelola, dianalisis, diintegrasikan dengan sumber data lain, dan disajikan dalam bentuk peta maupun informasi spasial yang mudah dipahami.

Integrasi keduanya menghasilkan alur kerja yang lebih kuat:

Drone → Akuisisi Data → Pengolahan Citra → Produk Geospasial → GIS → Analisis → Monitoring → Pengambilan Keputusan

Karena itu, Pelatihan Integrasi GIS dan Drone untuk Pemetaan dan Monitoring Wilayah menjadi relevan bagi pemerintah daerah, perusahaan, perguruan tinggi, konsultan, lembaga penelitian, serta organisasi yang membutuhkan data spasial beresolusi tinggi.

Pemahaman dasar mengenai GIS juga merupakan fondasi penting. Untuk memperluas wawasan mengenai pengelolaan data spasial, perencanaan, pemetaan, dan pemanfaatan GIS, peserta dapat mempelajari Bimtek Geographic Information System (GIS): Strategi Pengelolaan Data Spasial untuk Perencanaan, Pemetaan dan Pengambilan Keputusan.

Apa Itu Integrasi GIS dan Drone?

Integrasi GIS dan drone berarti menggunakan data yang diperoleh melalui drone sebagai salah satu sumber data geospasial yang kemudian diproses, dikelola, dianalisis, dan divisualisasikan menggunakan teknologi GIS.

Drone dapat menghasilkan berbagai produk data, antara lain:

  • Foto udara.
  • Orthophoto/orthomosaic.
  • Digital Surface Model (DSM).
  • Digital Terrain Model (DTM) melalui metode dan sumber data yang sesuai.
  • Point cloud.
  • Model 3D.
  • Kontur.
  • Peta penggunaan lahan.
  • Peta kondisi objek.

Data tersebut kemudian dapat diintegrasikan dengan data GIS lainnya.

Contohnya:

Orthophoto + Batas Administrasi + Jalan + Sungai + Data Aset + Data Topografi

Dengan integrasi tersebut, pengguna tidak hanya memiliki foto udara, tetapi dapat melakukan analisis spasial berdasarkan posisi dan atribut objek.

Mengapa Drone Penting dalam Pemetaan?

Salah satu keunggulan drone adalah kemampuannya menghasilkan data dengan resolusi spasial tinggi.

Dalam kondisi dan perencanaan penerbangan yang tepat, drone dapat digunakan untuk memperoleh informasi detail pada lokasi tertentu.

Keunggulan yang dapat diperoleh antara lain:

  • Detail objek tinggi.
  • Fleksibel untuk area tertentu.
  • Pengumpulan data relatif cepat.
  • Dapat digunakan untuk monitoring berkala.
  • Mendukung dokumentasi visual.
  • Dapat menghasilkan data 2D dan 3D.
  • Mendukung pengukuran dan analisis tertentu.

Namun, drone bukan solusi untuk semua kebutuhan pemetaan. Untuk wilayah yang sangat luas, citra satelit dapat lebih efisien sebagai sumber data awal, sedangkan drone dapat digunakan untuk memperoleh detail pada area prioritas.

Karena itu, pendekatan yang ideal bukan drone versus satelit, tetapi memilih sumber data berdasarkan kebutuhan.

Peran GIS dalam Pengolahan Data Drone

Data drone akan menjadi jauh lebih bernilai ketika diintegrasikan ke dalam GIS.

GIS dapat digunakan untuk:

  • mengelola orthophoto;
  • menampilkan model elevasi;
  • melakukan overlay;
  • membuat peta tematik;
  • mengukur luas;
  • mengukur jarak;
  • menganalisis perubahan;
  • menggabungkan data atribut;
  • membuat database spasial;
  • melakukan monitoring.

Dengan demikian, GIS berfungsi sebagai lingkungan analisis yang menghubungkan data drone dengan berbagai informasi spasial lainnya.

Dasar-Dasar Data Geospasial dari Drone

Sebelum menggunakan hasil pemetaan drone, peserta perlu memahami jenis data yang dihasilkan.

Produk Fungsi
Foto udara Dokumentasi dan interpretasi objek
Orthomosaic Peta citra terkoreksi secara geometrik
DSM Representasi permukaan termasuk objek di atas tanah
DTM Representasi permukaan tanah yang dihasilkan melalui metode pengolahan yang sesuai
Point cloud Kumpulan titik 3D
Mesh 3D Representasi permukaan tiga dimensi
Kontur Representasi garis ketinggian
Model 3D Visualisasi objek atau permukaan secara tiga dimensi

Pemilihan produk tergantung tujuan pekerjaan.

Untuk pemetaan bidang atau tutupan lahan, orthomosaic dapat menjadi produk utama.

Untuk analisis topografi, data elevasi dapat menjadi komponen penting.

Untuk dokumentasi konstruksi, model 3D dapat memberikan gambaran perkembangan proyek.

Tahapan Pemetaan Menggunakan Drone

Pemetaan drone bukan sekadar menerbangkan perangkat dan mengambil foto.

Proses yang baik memerlukan perencanaan.

1. Menentukan Tujuan

Tujuan harus ditentukan sebelum penerbangan.

Contohnya:

  • pemetaan kawasan;
  • monitoring proyek;
  • inventarisasi aset;
  • pemetaan lahan;
  • dokumentasi kondisi;
  • analisis perubahan.

2. Menentukan Area Survei

Area perlu ditentukan berdasarkan koordinat dan batas yang jelas.

3. Menentukan Parameter Penerbangan

Beberapa parameter yang perlu diperhatikan:

  • ketinggian penerbangan;
  • overlap;
  • sidelap;
  • kecepatan;
  • jalur penerbangan;
  • resolusi yang dibutuhkan;
  • kondisi cuaca;
  • karakteristik medan.

4. Menyiapkan Ground Control Point

Untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian posisi tertentu, Ground Control Point atau GCP dapat digunakan sesuai metode dan standar pekerjaan.

GCP membantu mengikat hasil pemrosesan terhadap koordinat di lapangan.

5. Melakukan Penerbangan

Penerbangan dilakukan sesuai rencana dan ketentuan keselamatan.

6. Mengolah Data

Foto yang diperoleh kemudian diproses menjadi produk geospasial.

7. Melakukan Quality Control

Hasil perlu diperiksa sebelum digunakan.

8. Mengintegrasikan dengan GIS

Data kemudian dimasukkan ke dalam GIS untuk analisis dan visualisasi.

Ground Control Point dan Akurasi

Akurasi merupakan aspek penting dalam pemetaan drone.

GCP adalah titik kontrol di permukaan bumi yang koordinatnya diketahui dan digunakan sebagai referensi dalam pengolahan data.

Dalam pekerjaan tertentu, titik kontrol dapat membantu meningkatkan ketelitian posisi produk pemetaan.

Namun, penggunaan GCP tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya faktor yang menentukan akurasi.

Akurasi juga dipengaruhi oleh:

  • kualitas GNSS;
  • kamera;
  • kalibrasi;
  • kondisi penerbangan;
  • overlap;
  • metode pengolahan;
  • kualitas titik kontrol;
  • distribusi GCP;
  • karakteristik medan;
  • metode validasi.

Karena itu, hasil pemetaan perlu melalui proses quality control dan, apabila diperlukan, independent check point atau metode pengujian akurasi yang sesuai.

Regulasi dan Keselamatan Pengoperasian Drone

Penggunaan drone untuk pekerjaan pemetaan harus memperhatikan ketentuan penerbangan yang berlaku di Indonesia.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyediakan informasi dan regulasi terkait penerbangan serta pengoperasian pesawat udara tanpa awak.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan

Salah satu regulasi yang perlu diperhatikan adalah Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 37 Tahun 2020 tentang Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia, beserta ketentuan lain yang berlaku dan pembaruannya.

Peraturan JDIH Kementerian Perhubungan

Dalam praktiknya, operator perlu memperhatikan antara lain:

  • lokasi penerbangan;
  • ruang udara;
  • ketinggian;
  • keselamatan masyarakat;
  • kondisi cuaca;
  • area terlarang atau terbatas;
  • keselamatan penerbangan;
  • ketentuan perizinan yang berlaku.

Aspek regulasi harus menjadi bagian dari pelatihan karena keberhasilan pemetaan tidak hanya ditentukan oleh kualitas data, tetapi juga oleh keselamatan dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

Integrasi Orthophoto dengan GIS

Orthophoto merupakan salah satu produk drone yang sangat bermanfaat dalam GIS.

Orthophoto dapat digunakan sebagai basemap beresolusi tinggi.

Di atas orthophoto tersebut, pengguna dapat menambahkan:

  • batas wilayah;
  • jalan;
  • bangunan;
  • sungai;
  • aset;
  • jaringan utilitas;
  • bidang tanah;
  • titik fasilitas.

Dengan demikian, orthophoto menjadi konteks visual sementara data GIS memberikan informasi tematik dan atribut.

Integrasi Data Drone dengan Data Pemerintah

Salah satu manfaat terbesar integrasi GIS dan drone adalah kemampuan menggabungkan data lokal beresolusi tinggi dengan data geospasial yang lebih luas.

Contohnya:

Data Drone + Ina-Geoportal + Data Administrasi + Data Infrastruktur + Data Statistik

Badan Informasi Geospasial menyediakan berbagai sumber daya informasi geospasial nasional yang dapat menjadi referensi dalam pengelolaan data spasial.

Ina-Geoportal Badan Informasi Geospasial

Integrasi data harus tetap memperhatikan sumber, skala, sistem koordinat, kualitas, metadata, serta kesesuaian penggunaan.

Pemetaan Drone untuk Monitoring Pembangunan

Salah satu penerapan paling menarik adalah monitoring pembangunan.

Drone dapat digunakan untuk memperoleh dokumentasi kondisi proyek pada periode tertentu.

Misalnya:

Januari → Februari → Maret → April → Mei

Setiap periode menghasilkan data spasial yang dapat dibandingkan.

GIS kemudian dapat digunakan untuk menyusun informasi mengenai:

  • lokasi proyek;
  • luas area;
  • progres;
  • perubahan kondisi;
  • volume tertentu apabila metode pengukuran mendukung;
  • dokumentasi visual.

Dengan demikian, monitoring tidak hanya mengandalkan laporan tertulis.

Analisis Perubahan Wilayah

Integrasi GIS dan drone dapat digunakan untuk change detection pada skala lokal.

Contohnya:

  • perubahan kawasan konstruksi;
  • perubahan lahan pertanian;
  • perubahan garis pantai;
  • perkembangan permukiman;
  • perubahan area tambang;
  • perubahan tutupan lahan;
  • perkembangan kawasan industri.

Prosesnya:

Data Periode 1 → Data Periode 2 → Penyelarasan → Overlay/Analisis → Identifikasi Perubahan → Validasi

Hasil analisis dapat berupa peta perubahan dan statistik luas.

Pemetaan untuk Tata Ruang

Drone dapat membantu memperoleh data detail suatu kawasan yang kemudian diintegrasikan dengan informasi tata ruang.

Misalnya, suatu pemerintah daerah ingin mengevaluasi perkembangan bangunan di sekitar kawasan tertentu.

Data drone dapat digunakan untuk melihat kondisi aktual, kemudian dibandingkan dengan:

  • rencana tata ruang;
  • batas kawasan;
  • jaringan jalan;
  • sungai;
  • kawasan lindung;
  • penggunaan lahan.

Analisis tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kesesuaian kondisi aktual dengan rencana yang telah ditetapkan.

Untuk kebutuhan tata ruang dan kebijakan geospasial, data hasil pemetaan tetap perlu disesuaikan dengan standar, skala, ketelitian, dan ketentuan yang berlaku.

Pemetaan Aset dengan Drone dan GIS

Aset daerah maupun perusahaan dapat dipetakan menggunakan kombinasi drone dan GIS.

Contohnya:

  • gedung;
  • lahan;
  • fasilitas;
  • jaringan;
  • infrastruktur;
  • kawasan produksi.

Data dapat disusun dalam database spasial.

Setiap objek dapat memiliki atribut seperti:

Atribut Contoh
ID Aset AST-001
Nama Gedung Kantor
Lokasi Kecamatan A
Luas 1.500 m²
Kondisi Baik
Tahun 2022
Status Aktif
Dokumentasi Foto udara

Peta kemudian menjadi antarmuka untuk mengakses informasi aset.

Penerapan untuk Pertanian dan Perkebunan

Drone juga dapat digunakan untuk monitoring pertanian dan perkebunan.

Beberapa pemanfaatannya:

  • pemetaan lahan;
  • monitoring tanaman;
  • identifikasi area bermasalah;
  • analisis vegetasi;
  • pemantauan pertumbuhan;
  • estimasi area tertentu;
  • dokumentasi kondisi lapangan.

Jika drone dilengkapi sensor multispektral, analisis dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai karakteristik sensor dan metode pengolahan.

Data hasil analisis dapat dimasukkan ke GIS sehingga kondisi tanaman dapat divisualisasikan berdasarkan lokasi.

Penerapan untuk Kebencanaan

Dalam situasi tertentu, drone dapat membantu memperoleh gambaran kondisi wilayah terdampak bencana.

Contohnya:

  • banjir;
  • longsor;
  • gempa;
  • erupsi;
  • kerusakan infrastruktur;
  • kebakaran.

Drone dapat digunakan untuk memperoleh data visual pada lokasi yang sulit dijangkau.

GIS kemudian dapat mengintegrasikan informasi tersebut dengan:

  • batas administrasi;
  • jaringan jalan;
  • fasilitas kesehatan;
  • lokasi pengungsian;
  • sungai;
  • kawasan rawan.

Hasilnya dapat membantu proses asesmen dan perencanaan respons.

Untuk operasi kebencanaan, penerbangan drone harus tetap mempertimbangkan keselamatan, kondisi cuaca, ruang udara, dan koordinasi dengan pihak berwenang.

Penerapan untuk Monitoring Lingkungan

GIS dan drone dapat digunakan untuk monitoring lingkungan pada skala tertentu.

Contohnya:

  • ruang terbuka hijau;
  • vegetasi;
  • sempadan sungai;
  • kawasan pesisir;
  • lahan terbuka;
  • perubahan penggunaan lahan;
  • area terdampak aktivitas tertentu.

Drone memberikan detail lokal, sedangkan GIS memungkinkan hasilnya dibandingkan dengan data wilayah yang lebih luas.

Drone dan Digital Twin

Perkembangan teknologi juga membuka peluang integrasi data drone dengan model 3D dan konsep digital twin.

Data drone dapat digunakan untuk membangun representasi tiga dimensi suatu objek atau kawasan.

Kemudian model tersebut dapat dikaitkan dengan data GIS dan informasi atribut.

Dalam pengelolaan infrastruktur, pendekatan ini berpotensi mendukung:

  • inspeksi;
  • monitoring;
  • dokumentasi;
  • perencanaan;
  • simulasi;
  • pengelolaan aset.

Namun, penerapan digital twin membutuhkan infrastruktur data dan standar yang lebih kompleks dibandingkan sekadar pembuatan model 3D.

Teknologi yang Mendukung Integrasi GIS dan Drone

Beberapa teknologi yang dapat digunakan dalam workflow antara lain:

Teknologi Fungsi
Drone/UAS Akuisisi data udara
GNSS Pengukuran posisi
GCP Kontrol posisi
Software fotogrametri Pengolahan foto
QGIS Pengolahan dan analisis GIS
ArcGIS GIS dan analisis spasial
PostGIS Database spasial
Web GIS Publikasi data
Cloud storage Penyimpanan data
Remote Sensing Analisis citra

Pemilihan perangkat harus mempertimbangkan tujuan pekerjaan dan tingkat ketelitian yang diperlukan.

Kompetensi yang Diperoleh dari Pelatihan

Pelatihan Integrasi GIS dan Drone dapat dirancang untuk memberikan kompetensi yang saling terhubung.

Peserta dapat mempelajari:

  • konsep dasar GIS;
  • prinsip dasar pemetaan drone;
  • perencanaan misi penerbangan;
  • pengumpulan data udara;
  • pengelolaan foto udara;
  • konsep fotogrametri;
  • orthomosaic;
  • model elevasi;
  • point cloud;
  • quality control;
  • integrasi data ke GIS;
  • analisis spasial;
  • monitoring perubahan;
  • pembuatan peta;
  • penyajian hasil.

Pelatihan sebaiknya menggunakan studi kasus nyata agar peserta memahami bagaimana data drone bergerak dari proses akuisisi hingga menjadi informasi yang digunakan untuk pekerjaan.

Contoh Alur Praktik Pelatihan

Agar pelatihan lebih aplikatif, peserta dapat mengikuti workflow sederhana:

Tahap 1 – Perencanaan

Menentukan area dan tujuan pemetaan.

Tahap 2 – Persiapan Data

Menentukan sistem koordinat, GCP jika diperlukan, serta parameter survei.

Tahap 3 – Akuisisi

Melakukan pengambilan foto udara sesuai rencana.

Tahap 4 – Processing

Menghasilkan orthomosaic dan produk lainnya.

Tahap 5 – Quality Control

Memeriksa kualitas hasil.

Tahap 6 – GIS

Memasukkan data ke GIS.

Tahap 7 – Analisis

Melakukan pengukuran, overlay, klasifikasi, atau analisis perubahan.

Tahap 8 – Visualisasi

Membuat peta dan layout.

Tahap 9 – Monitoring

Membandingkan data antarperiode.

Tahap 10 – Pelaporan

Menyusun hasil dalam bentuk peta, tabel, grafik, dan laporan.

Tantangan Integrasi GIS dan Drone

Meskipun memiliki banyak manfaat, integrasi GIS dan drone juga menghadapi tantangan.

Kualitas Data

Tidak semua foto udara otomatis menghasilkan peta yang akurat.

Kondisi Cuaca

Angin, hujan, kabut, dan kondisi cahaya dapat memengaruhi proses akuisisi.

Regulasi

Penerbangan harus memperhatikan aturan ruang udara dan keselamatan.

Kapasitas Penyimpanan

Foto resolusi tinggi dapat menghasilkan data dalam ukuran besar.

Kemampuan SDM

Diperlukan pemahaman mengenai drone, fotogrametri, GIS, dan analisis data.

Validasi

Hasil pemetaan perlu diuji sebelum digunakan untuk keputusan penting.

Pentingnya Quality Control

Quality control harus dilakukan pada setiap tahap.

Beberapa hal yang dapat diperiksa:

  • kelengkapan foto;
  • overlap;
  • geometri;
  • posisi;
  • kualitas orthomosaic;
  • artefak;
  • sistem koordinat;
  • ketelitian;
  • kesesuaian atribut.

Jika data digunakan untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, pengujian akurasi harus dilakukan berdasarkan metode dan standar yang relevan.

Strategi Implementasi di Organisasi

Organisasi yang ingin menerapkan teknologi ini dapat memulainya dari proyek sederhana.

Tahap Awal

Pilih satu area prioritas.

Tahap Pengembangan

Bangun workflow standar.

Tahap Integrasi

Hubungkan hasil drone dengan database GIS.

Tahap Monitoring

Lakukan pemetaan secara berkala.

Tahap Digitalisasi

Kembangkan Web GIS atau dashboard jika diperlukan.

Dengan pendekatan bertahap, organisasi dapat mengembangkan kemampuan tanpa harus langsung membangun sistem yang terlalu kompleks.

Mengapa Pelatihan Integrasi GIS dan Drone Penting?

Penggunaan drone tanpa kemampuan GIS dapat menghasilkan banyak foto tetapi belum tentu menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Sebaliknya, GIS tanpa data aktual beresolusi tinggi mungkin kurang optimal untuk kebutuhan monitoring area tertentu.

Integrasi keduanya memberikan pendekatan yang lebih lengkap:

Drone menghasilkan data detail.

GIS mengubah data menjadi informasi.

Analisis mengubah informasi menjadi insight.

Insight mendukung keputusan.

Inilah kompetensi yang menjadi fokus utama dalam pelatihan integrasi GIS dan drone.

Kesimpulan

Pelatihan Integrasi GIS dan Drone untuk Pemetaan dan Monitoring Wilayah memberikan pemahaman mengenai bagaimana teknologi drone dapat dikombinasikan dengan GIS untuk menghasilkan informasi geospasial yang lebih detail, terstruktur, dan mudah dianalisis.

Drone mampu menyediakan data udara dengan detail tinggi untuk area tertentu. GIS kemudian dapat digunakan untuk mengelola, mengintegrasikan, menganalisis, dan memvisualisasikan data tersebut bersama sumber informasi lainnya.

Penerapannya mencakup pemetaan wilayah, monitoring pembangunan, inventarisasi aset, tata ruang, pertanian, perkebunan, kebencanaan, lingkungan, hingga pengelolaan infrastruktur.

Namun, keberhasilan pemetaan tidak hanya ditentukan oleh jenis drone atau software yang digunakan. Perencanaan survei, kualitas data, sistem koordinat, kontrol posisi, validasi, kemampuan SDM, keselamatan penerbangan, dan kepatuhan terhadap regulasi merupakan bagian penting dari keseluruhan proses.

Dengan kompetensi yang tepat, organisasi dapat membangun workflow yang lebih efektif:

Akuisisi Data → Pengolahan → Validasi → Integrasi GIS → Analisis → Monitoring → Informasi → Keputusan.

Teknologi tersebut pada akhirnya bukan sekadar mempercepat proses pemetaan, tetapi membantu organisasi membangun sistem pengelolaan wilayah yang lebih berbasis data dan kondisi aktual di lapangan.

FAQ

Apa manfaat integrasi GIS dan drone?

Integrasi GIS dan drone memungkinkan organisasi memperoleh data udara beresolusi tinggi kemudian mengolahnya menjadi peta, database spasial, analisis perubahan, model elevasi, serta informasi yang dapat digunakan untuk monitoring dan pengambilan keputusan.

Apakah hasil pemetaan drone selalu akurat?

Tidak otomatis. Akurasi dipengaruhi oleh perangkat, metode survei, GNSS, GCP, kondisi penerbangan, overlap, pengolahan, serta metode validasi. Untuk pekerjaan tertentu, hasil pemetaan perlu melalui pengujian akurasi.

Apakah penggunaan drone untuk pemetaan membutuhkan pemahaman GIS?

Sangat disarankan. Drone menghasilkan data, sedangkan GIS membantu mengelola dan menganalisis data tersebut. Pemahaman keduanya memungkinkan pengguna menghasilkan informasi yang lebih bernilai daripada sekadar foto udara.

Siapa yang cocok mengikuti pelatihan ini?

Pelatihan cocok untuk tenaga GIS, surveyor, pemerintah daerah, Bappeda, OPD, PUPR, BPBD, perusahaan, konsultan, perguruan tinggi, peneliti, pengelola aset, dan profesional yang membutuhkan kemampuan pemetaan serta monitoring berbasis drone dan GIS.

Tingkatkan Kemampuan Pemetaan Berbasis Teknologi

Kuasai integrasi GIS dan drone untuk menghasilkan data spasial yang lebih detail, mempercepat monitoring wilayah, meningkatkan kualitas pemetaan, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis kondisi aktual di lapangan.

Bangun kompetensi tim Anda dari akuisisi data udara hingga menghasilkan peta, analisis spasial, dan informasi geospasial yang siap digunakan.

Pelatihan Integrasi GIS dan Drone untuk Pemetaan dan Monitoring Wilayah




author-avatar

Tentang Bimtek PSKN

PT. PUSAT STUDI DAN KONSULTASI NASIONAL adalah Salah satu Perusahaan Bergerak di bidang Pengambangan SDM Dan Teknologi Informasi.